Yang terjadi di buku ‘Salt to the Sea – Ruta Sepetys’

Saya mendapatkan buku ini dari seorang sahabat (follow beliau di @lotraishere) yang memberikan buku ini untuk hadiah ulang tahun saya saat kami berjumpa di salah satu kafe di daerah Rasuna Said.

Dari covernya, saya sudah menduga bahwa ini buku drama karena tampilan covernya yang lembut dan syahdu karena sebagian besar berwarna biru. Mungkin beliau memberikan saya buku ini karena saya pernah menceritakan betapa saya menyukai buku karangan Anthony Doerr – All the Light We Cannot See.

Begitu sampai di rumah, saya segera membuka halaman-halamannya dan saya mengetahui bahwa buku ini bertemakan Perang Dunia II, jadi buku ini bergenre historical – fiction. Ya, kebanyakan dari kita rasanya malas untuk membaca buku-buku bertemakan perang atau sejarah, tetapi ketika saya membaca beberapa halaman awal, saya langsung jatuh cinta kepada bagaimana penulis buku ini, Ruta Sepetys menulis narasinya. Oh demi dewa-dewi alfabet, i Love this book so  much.

Jadi, apa yang terjadi di dalam buku ini?

 Buku ini dimulai dengan empat karakter utama yaitu :

  1. Joanna Vilkas, seorang perawat muda meninggalkan kampung halamannya, Lithuania sejak 1941.
  2. Florian Beck, seorang remaja muda dari Prusia yang melarikan diri dari bayang-bayang Jerman.
  3. Emilia Stożek, seorang gadis Lwów, bagian tenggara Polandia dan berusia lima belas tahun.
  4. Alfred Frick, seorang anak muda kebangsaan Jerman yang sangat bersemangat
    dan sangat mengagumi propaganda Adolf Hitler yang telah menjadi kelasi di kapal Wilhelm Gustloff.

Masing-masing dari mereka memiliki alasan masing-masing berusaha untuk mencapai ke pelabuhan tempat kapal bernama Wilhelm Gustloff berada. Mereka percaya bahwa kapal ini adalah satu-satunya kapal yang akan membawa mereka kepada kebebasan dan perang yang berkecamuk. Tetapi sebelum mereka dapat tiba ke kapal ini, mereka pertama-tama harus bertahan hidup melewati perjalanan yang berbahaya melalui perbatasan musuh, serangan tembakan dari segala arah, cuaca dingin yang buruk yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Plus dan minus buku ini :

  • (+) Gaya penulisan buku ini sangat luar biasa. Tidak ada celah cacat dan sempurna kalau menurut saya. Bahasanya sangat ringan dan mudah dicerna. Saya belum pernah membaca buku dengan metode penulisan sepert ini dimana setiap bab hanya terdiri dari 1 – 3 halaman saja dan setiap bab menceritakan sudut pandang masing-masing karakter dengan sangat baik. Cukup aneh memang rasanya membaca metode penulisan seperti ini, tetapi saya menyukainya karena ritme narasinya berimbang antara karakter yang satu dengan yang lain.
  • (+) Buku ini membuat emosi pembaca terasa menaiki roller-coaster. Ya, kita akan tertawa, tersenyum, bersimpati bahkan menangis ketika karakter-karakter lain harus mengorbankan nyawanya untuk keselamatan yang lain.
  • (+) Tidak hanya karakter-karakter utama yang berkualitas, karakter-karakter pendukung yang dihadirkan pun juga sangat berkualitas. Kita mungkin tidak terlalu mengenal masa lalu karakter pedukung ini, tetapi mereka terasa sangat mudah dipahami dan sangat mendukung jalannya cerita.
  • (+) Buku ini diinspirasi dari kisah nyata. Dimana kapal Wilhelm Gustloff pada saat tenggelam membawa 10.574 penumpang. Diperkirakan 9.400 dari mereka meninggal. Bandingkan dengan Titanic yang dikenal sebagai salah satu insiden terburuk,  ‘hanya’ kehilangan 1.503 penumpang. Apabila Titanic membutuhkan 2 jam 40 menit untuk tenggelam, Wilhelm Gustfloff tenggelam dalam waktu kurang dari satu jam.
  • (-) Apabila tiga karakter utama (Florian, Joanna dan Emilia) sangat mudah dipahami sudut pandangnya dari bab-bab awal, saya merasa pembaca harus cukup bersabar untuk memahami sudut pandang karakter Alfred yang agak ‘delusional’
  • (-) Saya penasaran dengan nasib dari karakter Eva. Ada yang tahu?


 

Penulis : Ruta Sepetys
Jumlah Halaman : 391 Halaman
Ratings : 4.7 / 5  di Amazon, 4.37 / 5 di Goodreads


 

*** Peringatan! Semua yang tertulis di bawah ini mengandung SPOILER ***

Di dalam hutan, seorang pembelot, Florian Beck, yang terluka parah akibat pecahan peluru meriam memutuskan untuk bersembunyi di sebuah gudang kentang tua. Ketika dia bersembunyi, dia melihat seorang gadis Polandia, Emilia yang ingin dibunuh oleh tentara Rusia. Florian membunuh tentara itu Florian enggan mengajak Emilia karena dia akan memperlambat perjalanannya, tetapi Emilia mengingatkan dirinya akan adiknya, Anni, jadi dengan enggan, Florian membiarkan Emilia pergi bersamanya.

Emilia tahu bahwa Florian adalah seorang Jerman dan tidak ingin mencampuri urusannya karena Hitler memperhitungkan orang-orang Polandia adalah orang-orang yang kastanya lebih rendah dan dengan brutal membunuh orang-orang Polandia. Meski demikian, Emilia menganggap bahwa Florian adalah ksatrianya – seseorang yang menyelamatkan hidupnya.

Sementara itu, Joana Vilkas yang berusia dua puluh tahun meninggalkan kampung halamannya, Lithuania pada tahun 1941 bersama keluarganya. Karena ibunya memiliki warisan Jerman, mereka diizinkan untuk pulang ke Jerman, tetapi Joana hanya berhasil sampai ke Insterberg di Prusia Timur. Empat tahun lamanya dia bekerja sebagai ahli bedah di rumah sakit di Insterberg dimana pertama-tama dia bekerja mengurusi rak stok, dan kemudian menjadi asisten ahli bedah.

Selagi dia berjalan, Joana bersama lima belas pengungsi lainnya bertemu dengan Klaus, seorang anak kecil berusia enam tahun yang bersama neneknya di dekat hutan, namun neneknya meninggal dan kini Klauz kini yatim, jadi Joana mengajak serta anak itu. Bersama dengan Joana, ada seorang gadis buta, Ingrid, seorang pembuat sepatu bernama Heinz dan seorang wanita berusia lima puluhan bertubuh besar bernama Eva.

Mereka semua bermalam di sebuah gudang tua. Joana membersihkan dan menjahit luka Florian yang kini telah berubah menjadi infeksi tetapi Emilia tidak memperbolehkan Joana memeriksa dia. Joana curiga bahwa Florian menyembunyikan sesuatu. Ingrid yang memiliki insting sensitif tentang orang lain percaya bahwa Florian adalah seorang pencuri.

Joana meminta bantuan Eva untuk berbicara kepada Emilia karena dia mengerti bahasa Polandia. Eva mengetahui bahwa Emilia berusia lima belas tahun dan berasal dari Lwow dari bagian tenggara Polandia. Ayahnya mengirimkan dia ke sebuah tanah pertanian dekat Nemmersdorf di Prusia Timur, dengan harapan dia akan selamat disana. Baik Joana dan Eva merasa simpati karena mereka  mendengar tentang kekejaman yang dilakukan oleh tentara-tentara kepada penduduk di Nemmersdorf.

Setelah melewati Nemmersdorf, Emilia mengetahui bahwa pihak Nazi telah membunuh ribuan kaum Yahudi Polandia di Lwow, termasuk di antaranya adalah kedua temannya, Rachel dan Helen Weigel. Dia tidak tahu bahwa kebanyakan orang-orang cerdas Polandia seperti ayahnya, seorang profesor matematika juga dikurung dan dibunuh oleh Nazi.

Florian Beck dipekerjakan menjadi anak magang untuk bagian restorasi oleh Dr. Lange, seorang direktur sebuah museum di Konigsberg, Jerman. Dimentori oleh Dr. Lange, Florian dikirim ke sekolah terbaik sehingga dia dapat membantu mewujudkan cita-cita Adolf Hitler membangun sebuah museum seni di kampung halamannya, Linz. Melalui Dr. Lange, Florian bertemu dengan Gauleiter Erich Koch, pemimpin cabang regional Partai Nazi. Ratusan peti kemas mulai dikirimkan ke museum. Florian bekerja untuk memugar kembali bagian-bagian barang seni yang dikirimkan. Namun pada akhirnya, Florian menyadari apa yang dilakukan oleh Dr.Lange, Koch dan Nazi dengan barang-barang seni tersebut. Tidak menyukai hal itu, dia merencanakan untuk melakukan balas dendam.

Sementara itu Heinz si pembuat sepatu, Joana, Eva, Ingrid dan lainnya mulai bergerak menuju Gotenhafen juga. Heinz mengatakan bahwa mereka akan menemukan sebuah komplek Prusia tua yang sudah ditinggalkan dimana tempat itu dapat mereka gunakan untuk berlindung namun Joana meragukan hal ini. Kedua grup ini bertemu kedua kalinya di tempat tua itu. Mereka menghangatkan diri mereka dan beristirahat.

Di tempat ini Joana dan Florian mulai membentuk sebuah hubungan dimana sebenarnya Florian menyukai Joana sejak pertama kali bertemu dan Joana juga peduli dengan Florian. Joana mengecek bekas jahitannya. Mereka bahkan berdansa bersama ketika Klauz menemukan sebuah gramafon dan memainkannya.

Di tempat ini mulai terungkap rahasia-rahasia yang diemban oleh karakter-karakter di buku ini. Meskipun Emiliamengatakan bahwa dirinya berencana untuk menemui kekasihnya yang bernama August, semua itu hanya ilusinya. Kenyataan sebenarnya adalah Emilia sedang hamil karena diperkosa oleh tentara Rusia.Florian adalah seorang pembelot dan mencuri barang paling berharga dari Amber Room – ruang penyimpanan enam ton berlian, zamrud, ruby dan giok milik Nazi- dan barang paling berharga di tengah-tengah Amber Room itu adalah Angsa Emas.  Dan  Angsa Emas itu ada di dalam sepatunya.

Mereka menemukan keluarga yang dibunuh di dalam tempat itu dan mereka memutuskan mereka perlu untuk segera pergi dan meneruskan perjalanan ke Gotenhafen. Florian dan Emilia meninggalkan grup secara terpisah, dengan tujuan untuk menuju ke dermaga Gotenhafen. Florian tidak ingin pergi bersama dengan Emilia dan memberikannya pistol untuk perlindingan dirinya, tetapi meski demikian, Emilia tetap mengikutinya. Ketika seorang tentara Jerman mendadak keluar dari hutan untuk membunuh Florian dari belakang, Emilia menembak tentara itu untuk menyelamatkan Florian.

Joana dan lainnya tiba di sebuah pos pemeriksaan yang dipenuhi oleh pengungsi, kebanyakan dari mereka terbunuh oleh bom. Ingrid yang buta, menggunakan kemampuan fungsi inderanya untuk merasakan dan mengetes lapisan es diatas sungai yang membeku untuk mereka lewati agar dapat kabur. Tetapi, karena banyaknya bom yang berjatuhan, Ingrid jatuh ke dalam es dan meninggal di dalam lapisan es itu.

Sisa kelompok itu berhasil melarikan diri dari bom yang jatuh dan melanjutkan perjalanan ke Gotenhafen. Di sana mereka menemukan ribuan pengungsi dan pelaut bernama Alfred Frick, seorang remaja muda dan seorang pelaut di Kreigsmaine yang percaya bahwa dia sedang melayani kubu Jerman dengan baik. Dia percaya dia telah mengorbankan banyak hal dan dia juga percaya bahwa kemampuannya yang luar biasa telah menempatkan dia lebih tinggi dari siapa pun, padahal kenyataannya, dia melalaikan tugasnya dan bersembunyi di toilet.

Alfred sering membayangkan surat-surat yang dia tulis kepada seorang gadis Yahudi yang disukainya bernama Hannelore. Dalam suratnya kepada Hannelore, dia menceritakan bagaimana baiknya dia melaksanakan tugasnya dan dia akan menjadi seorang pahlawan besar. Pada akhirnya, Alfred ditugaskan untuk membantu di kapal Wilhelm Gustloff untuk proses evakuasi pasukan Jerman, pengungsi dari Prusia Timur, Polandia dan Jerman.

Florian, Emilia dan lainnya berlidung di sebuah katedral selagi mereka menunggu kesempatan mereka untuk dievakuasi, tetapi akhirnya, semua kecuali Eva (yang menaiki kapal lainnya) berhasil menaiki Wilhelm Gustloff, yang akan berlayar menuju Kiel. Di tengah perjalanan mereka, Emilia melahirkan bayinya, Halinka. Dan dalam perjalanan ini juga, Joana dan Florian akhirnya mengakui mereka mencintai satu sama lain.

Sebelum mereka mencapai Kiel, kapal mereka diserang oleh torpedo musuh dan mulai tenggelam. Ribuan orang mulai tenggelam. Heinz, si pembuat sepatu meninggal dengan mengorbankan dirinya denganmemberikan pelampungnya kepda Florian. Dia tenggelam karena mengikatkan koin-koin milik Klauz ke pinggangnya. Sementara Florian, Joana dan Emilia bekerja untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang dapat mereka selamatkan, Alfred justru menunjukkan sikap pengecut. Mengetahui bahwa Emilia adalah seorang Polandia – kasta yang menurutnya lebih rendah dan harus dihilangkan dari muka bumi – dan mencoba membunuhnya.

Sebuah kapal penyelamat datang. Dengan kelelahan, Joana memanjat tali penolong dengan sikunya dan tidak sengaja menendang Florian hingga dia jatuh ke laut. Saat tenggelam dan mencari jaring, dia mendengar suara wanita yang berteriak kepadanya untuk terus menendang kakinya. Florian muncul ke permukaan dan  ditarik ke dalam sekoci. Florian berterima kasih karena Joana terus berteriak, tetapi Joana tidak mengerti apa yang Florian ucapkan. Bukan Joana yang berteriak.

Dengan sifat delusionalnya dan untuk menepati janjinya kepada Hannelore, kekasihnya untuk menjadi pahlawan Jerman sejati, Alfred mencoba untuk melemparkan Emilia ke laut, namun naas, Alfred kehilangan keseimbangan, kepalanya membentur permukaan besi dan tenggelam. Meski Emilia melihat cahaya kapal penyelamat dari jauh, namun dia kehabisan tenaga setelah melahirkan dan akhirnya meninggal.

Florian and Joana akhirnya selamat, dan mereka mengadopsi Klaus dan Halinka. 24 tahun kemudian, saat mereka pindah ke Amerika, Halinka yang pada saat itu mengikuti kompetisi renang musim panas mengatakan bahwa kewarganegaraannya dipertanyakan karena dia lahir di atas kapal Jerman yang tenggelam bernama Wilhlem Gustoff. Halinka tidak tahu apa-apa tentang ibunya kecuali ibunya bernama Emilia dan orang Polandia.

Lalu pada tahun 1969, di bulan April, Florian mendapatkan surat dari Clara Christensen dari Denmark yang mengatakan bahwa jenazah Emilia diketemukan di bulan Februari saat suaminya mengecek jaring di sore hari dan menemukan rakit mengetuk-ngetuk pantai mereka. Mereka menemukan catatan Florian yang berisi tulisan-tulisan kecil, sketsa, tanda tangan, catatan tentang Joana dan Emilia yang mengenakan topi merah jambu dan keturunan Polandia.

Itulah yang terjadi dengan buku Salt to The Sea. Sampai jumpa di #KupasBuku selanjutnya. ©ctrevory

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: