Book Review | Cress by Marissa Meyer (Lunar Chronicles #2)

Sinopsis :

Dalam buku ketiga Lunar Chronicles ini, Cinder dan Kapten Thorne menjadi buronan yang paling dicari bersama dengan Scarlet dan Wolf. Bersama-sama, mereka berencana untuk melemparkan Ratu Levana dari tahtanya dan mencegah bumi dikuasai oleh Lunar.
Harapan mereka tinggal bersama Cress, seorang gadis yang terperangkap di dalam sebuah satelit sejak ia kecil yang hanya ditemani oleh layar netscreen sebagai temannya dan menjadikan Cress adalah seorang peretas handal. Dia dipaksa untuk bekerja untuk Ratu Levana dan salah satu perintah untuk dirinya adalah dia harus melacak keberadaan Cinder.
Ketika rencana penyelamatan Cress berantakan, grup pahlawan kita tercerai berai. Cress akhirnya menemukan kebebasannya dengan harga yang harus dibayar mahal. Sementara itu, Ratu Levana tidak akan membiarkan satupun hal datang merusak pernikahannya dengan  Pangeran Kai. Harapan bumi hanya ada di tangan Cinder dan kawan-kawan.
Sumber : Goodreads.com

Review & Rating

My Rating : 9 / 10
Goodreads Rating : 4.47 / 5

Jujur, buku instalasi ketiga dari Lunar Chronicles ini jauh lebih menyenangkan  untuk dibaca ketimbang Scarlet. Yap, setelah gue merasa cukup boring saat membaca Scarlet, gue jatuh cinta dengan cerita Cress karena gue ngerasa banget Marissa Meyer bener-bener ngembangin cerita Lunar Chronicles dalam buku Cress ini. Gak heran kalo Cress rasanya adalah buku yang paling tebal dari semuanya.

Diambil dari tokoh dongeng klasik, Cress diambil dari karakter utama Tangled / Rapunzel. Diceritakan bahwa Cress adalah seseorang yang lugu, tingkah lakunya terkadang masih seperti bocah. Meskipun ia adalah seorang Lunar, dia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan ‘bumi’ seperti lagu Italia, drama-drama romantis, alam di bumi dan lainnya dan terkadang suka membayangkan dirinya sebagai orang lain, misalnya dirinya adalah seorang aktris, pejuang, dan lainnya. Buat gue, karakter Cress cukup berbeda karena ditampilkan benar-benar sebagai seseorang yang feminin sekali dan sangat berbeda dengan karakter Cinder dan Scarlet yang ditampilkan mandiri dan sedikit ‘maskulin’

Berlatar belakang sebagian besar di Afrika, alur cerita Lunar Chronicles ini sangat berkembang di buku ketiga ini.
Gue sangat suka bagaimana pembaca diperkenalkan kepada Cress di awal-awal buku dengan cara yang menarik.
Cress sendiri sebenarnya sudah dimunculkan di buku pertama saat Cinder berkomunikasi dengannya lewat audio.
Seiring berjalannya cerita, kita akan melihat bagaimana masing-masing karakter saling mengisi satu sama lain sehingga gue ngerasa banget rasa masing-masing karakter dalam buku ini benar-benar tergali dan lebih hidup ketimbang karakter-karakter sebelumnya. Salah satu yang paling gue suka dalam buku ini adalah hubungan antara Kapten Thorne dengan Cress. Sangat menarik. Selain itu kita juga dapat melihat perkembangan kedewasaan masing-masing karakter seperti:

  • Cinder bergumul dengan kepemimpinan dan latihannya menguasai kemampuan Lunarnya.
  • Cress kini berusaha beradaptasi dengan bumi setelah bertahun-tahun tinggal di dalam satelit.
  • Kapten Thorne si flamboyan ditantang untuk lebih setia dan mengedepankan teman-temannya ketimbang egonya sendiri.
  • Wolf yang berusaha mengatasi kegagalan dan kecemasannya.
  • Pangeran Kai bergumul dengan dampak yang harus ditanggungnya setelah keputusan besar yang diambilnya.
  • Scarlet berusaha untuk setidaknya selamat akibat bahaya yang menimpanya.

Nilai plus lainnya adalah begitu banyak karakter yang muncul dalam buku ini jadi seru banget bacanya karena kayanya gue penasaran dengan pengembangan setiap karakter yang udah dikenal di buku-buku sebelumnya.

Dan kayanya hampir semua karakter mengambil porsi yang sama besar dalam buku ketiga ini, jadi gak heran kita akan menemukan banyak adegan romance, petualangan, pertarungan, humor, strategi perang, kesedihan yang terjalin antar karakter yang diceritakan dengan baik.

Twist yang dihadirkan dalam cerita ini juga buat gue ditampilkan dengan sangat baik oleh Marissa Meyer. Dan seperti biasa Marissa Meyer juga menyempilkan sedikit cerita di akhir buku ini tentang siapa tokoh yang akan tampil di buku berikutnya, yaitu Putri Winter.

Cerita tentang siapa itu Putri Winter dapat dibaca di buku Lunar Chronicles selanjutnya yaitu Fairest yang menceritakan jauh lebih detil tentang siapa itu Ratu Levana, kenapa dia bisa begitu jahat, apa latar belakang cerita Ratu Levana, bagaimana hubungan Ratu Levana dengan kakaknya Ratu Channary dan lainnya.

Gue berharap di buku ketlima, Winter, plot ceritanya akan menjelaskan banyak sekali hal karena sepertinya settingnya akan berada di bulan. Gue penasaran seperti apa kira-kira Marissa Meyer menggambarkan suasana planet Luna dengan semua konflik yang ada.
Akhir kata, gue sangat-sangat menikmati buku ini.
Till next review ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: