Glamping Legok Kondang Lodge

Escape time : Sat – Mon, Februari 27-28 2016. 9 People. 1 Goal : Leisure.

Bandung tetap menjadi salah satu pilihan gue untuk melakukan short escape dan untuk short escape kali ini, gue dan pasangan beserta kawan-kawannya mencoba untuk melakukan short escape dengan Glamping (atau istilah lain dari glamour camping) tepatnya di Legok Kondang Lodge yang lokasinya berada di Jl Kurunagan, Lebak Munceng, Ciwidey – Jawa Barat pada tanggal 27-28 Februari 2016.

Bagi kalian yang belum pernah mendengar istilah glamping atau glamour camping, lemme tell you a lil bit about it first, okay? Sesuai namanya, yang ditawarkan tentu saja pengalaman melakukan kamping. Namun kamping yang ditawarkan oleh Legok Kondang adalah sensasi menginap di dalam kemah modern dengan pemandangan alam namun yang tetap menjaga sisi perkampungan di area kamping tersebut.

Penasaran? Cek vlog gue di bawah ini

(skip vlognya kalo lo males nonton dan mau terus membaca blog thread ini dalam bentuk tulisan)

 Please click on the CC icon (next to gear icon) for subtitles in English. Please do comment, like or subscribe. thank you.

 

(Blog version) – Preparation

Travelling kemana pun selalu membawa sebuah kesusahan rutin buat gue, yakni sulit tidur. Alhasil, (biasanya) gue selalu kurang tidur dan sakit kepala. Kenapa gue susah tidur? Biasanya, sih karena gue excited atau takut kebablasan, dan jadilah gw gak bisa tidur. Mencoba tidur sambil berjuang melawan headache dengan sedikit keringat dingin di badan, alarm menunjukkan udah pukul 3.30 dan mau nggak mau harus gue mandi dan bersiap-siap menjemput Pipie di daerah Grogol lalu kemudian menjemput temannya Budi di kawasan Mangga Dua Square.

Sekitar jam 5 pagi dengan dua orang penumpang di mobil gue, langsunglah kami merapat ke tol dalam kota menuju arah Bekasi untuk melakukan meeting point dengan mobil kedua yang berisikan 6 orang yakni Neli -Andre, Kris – Afu, Chis – Andri. Tidak lupa kami juga membekali diri dengan camilan di toserba terdekat (yang mana sampe detik ini gue juga masih belum menemukan Chitato Mie Goreng. Darn!) dan jadilah kami berangkat off to Bandung.

Oh ya, berhubung tempat lokasi Legok Kondang bukan berada di Bandung Kota, maka untuk kalian yang mau datang ke tempat ini, gue saranin untuk turun di tol Kopo karena lebih dekat untuk menuju Ciwidey, ya.

Tidak terasa kami semua memasuki Ciwidey sekitar pukul sebelas siang dan tentu perut sudah mulai mengeluarkan irama-irama kurang sedap.. ho ho ho .. Tidak tahu harus makan dimana, maka dari hasil celingak-celinguk rajin lihat kanan-kiri melihat pohon cemara, eh, melihat pilihan resto, akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan makan siang di Taman Kelinci yang dari luar tempatnya nampak menarik, cukup banyak yang datang dan menyediakan berbagai menu dari spanduk besar yang dipasang di bangunan restorannya.

Taman Kelinci Ciwidey

Hiasan patung kelinci berukuran dewasa, eh besar tidak akan kalian lewatkan saat melewati restoran ini. Tempatnya sendiri cukup luas dengan halaman parkir yang luas. (Saat kami datang, terlihat ada dua buah bus besar yang parkir dan beberapa mobil yang juga datang kesini) Selain menjual makanan, tempat ini juga menjual kelinci, loh (tapi tidak menjual majalah yang berlogokan kelinci itu yaaa guys.) Tamannya cukup besar dengan desain seperti taman teletubbies dengan lubang-lubang yang digunakan kelinci untuk ngumpet.

Taman ini ditujukan untuk anak-anak untuk dapat bermain bersama kelinci. It looks like fun. Harganya? Cukup merogoh kocek IDR 15.000 saja untuk 30 menit dan kalian akan mendapatkan dua buah wortel untuk dapat memberi makan kelinci. (Kalau merasa wortelnya kurang, dapat membeli lagi 3 buah wortel dengan tambahan IDR 5.000)  .. go feed the bunny, kids!

Sekarang mari membahas menu di restoran ini. Makanan yang ditawarkan beragam, mulai dari sosis-sosisan, (Sosis-sosisan disini dalam artian sosis beneran yang bisa dimakan yee, bukan sosis plastik), roti bakar, aneka nasi timbel, sop iga sampe ramen dengan harga yang terjangkau sekitar IDR 20-35rb / porsi. Secara rasa, makanan yang tersedia not bad (Setidaknya sop iga yang gue pesen oke-lah rasanya). Dari segi harga juga pastinya masuk di kantong.

Kekurangannya? Banyak sekali lalar yang hinggap atau mengitari makanan kita dan restoran ini tidak menyediakan lilin untuk dapat mengusir lalat meskipun kami sudah memintanya. Jadi jangan heran kalau ada satu atau dua lalat sedang enak-enak berendam di sayur asem kalian ya. Gue rasa kalau saja restoran ini bisa meningkatkan mutu ke-higienis-annya, gue rasa akan lebih yahud lagi nih. (beberapa foto gw repost dari sini)

 

Hamparan Kebun teh yang Hijau dan Kabut

Selesai mengisi perut, kami berembuk kira-kira empat wisata yang asyik untuk menghabiskan sedikit waktu sebelum check-in. Kawah Putih sempat menjadi pilihan, namun  banyak dari kami yang sudah pernah datang ke tempat itu, jadi akhirnya pilihan jatuh ke tempat sedikit lebih jauh dari Kawah Putih, yakni Situ Patenggang atau yang lebih terkenal dengan Situ Patengan yang berada sekitar 4-5km dari Kawah Putih. Gue sendiri belum pernah ke tempat ini dan ini pertama kalinya gue berkunjung..

Dengan berbekal Google Maps #terimakasihteknologi, perjalanan kami dihiasi dengan kabut yang bergelantung di langit, udara dingin serta hamparan kebun teh yang ciamik sampai kami bela-belain turun dari mobil untuk sekedar foto di kebun teh sekitar 15-20 menit. (Psst.. tenang, Tidak ada sepucuk daun teh pun yang dirusak dalam pengambilan foto. Kok bisa? Karena kami tidak seperti alay-alay yang tidur-tiduran merusak taman bunga di Gunung Kidul beberapa waktu lalu itu, loh sis.)

Oh ya, dalam perjalanan menuju Situ Patenggang, mata kami juga dimanjakan oleh kabut dan juga hamparan hijau kebun teh. Rasanya bikin pengen berhenti dan foto-foto dulu. Jadilah kami turun dan mengambil waktu sejenak untuk foto-foto. Kapan lagi kan foto rame-rame?

Situ Patenggang

Tiket masuk ke  dalam Situ Patenggang dipatok  IDR 20.500 / orang (untuk Weekend), kendaraan roda empat IDR 11.500 / kendaraan. Oh ya, mungkin untuk kalian yang belum pernah mendengar tentang Situ Patenggang mungkin bertanya-tanya, apa sih itu? Situ Patenggang adalah sebuah danau terletak pada daerah berketinggian mencapai 1600 meter dpl yang pada awalnya, danau (situ) ini adalah sebuah kawasan cagar alam, tetapi sejak tahun 1981 danau seluas 45.000 hektar ini resmi dibuka menjadi sebuah taman wisata alam. oke kan penjelasan gue? #terimakasihmbahgoogle

Begitu kami memarkir mobil, kita dapat menyewa sampan untuk menyeberangi danau untuk dapat tiba ke pulau Asmara. Beruntung punya pasangan yang jago debat, jadilah kami mendapatkan harga IDR 200.000 untuk 9 orang (lumayan, diskon go-ban.) Di Pulau Asmara ini, kita dapat berfoto-foto di Batu Cinta. Kenapa disebut demikian? Berikut penjelasannya :

Berasal dari bahasa Sunda, kata situ berarti danau dan patengan berarti saling mencari. Alkisah, terdapatlah sepasang anak manusia yang saling mencintai, yaitu Dewi Rengganis dan Ki Santang. Namun, keduanya terpisah untuk waktu yang lama. Karena rasa cinta yang sangat mendalam, mereka saling mencari satu sama lain dan akhirnya bertemulah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Batu Cinta. Dewi Rengganis lalu meminta dibuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka berdua dapat berlayar bersama. Hal ini dipenuhi oleh kekasihnya. Cerita masyarakat lokal menyebut perahu tersebut saat ini adalah pulau Asmara atau yang juga disebut sebagai Pulau Sasaka yang berbentuk hati. Diyakini, sepasang kekasih yang mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara akan mendapatkan cinta sejati dan abadi sebagaimana yang terjadi pada Dewi Rengganis dan Ki Santang.(Cieeee Ki santang…)

Setelah puas berfoto-foto di Pulau Asmara, Batu Cinta  serta membeli camilan, langsunglah kami berlari menuju mobil, bukan karena ada lomba lari, tapi karena hujan deres cuy.

Legok Kondang Lodge

Selanjutnya, kami melakukan check in ke Legok Kondang by phone dan bergegas menuju ke tempat menginap kami. Saat kami melakukan check-in, ternyata mobil kami disarankan untuk dititipkan di tempat parkir mobil sementara yang berupa rumah penduduk dikarenakan tempat kami menginap berada di bukit serta terjal. (Kalau masih ngotot mau naik sendiri sih boleh dengan syarat kondisi mobil harus manual, bukan automatic.) Berhubung gue masih sayang sama mobil, ya gue prefer mobil diinapkan saja semalam di tempat parkir sementara.

Setelah mobil diinapkan, kita mendapatkan fasilitas mobil Ontang-Anting yang dapat mengangkut kita ke penginapan. Sebenarnya bentuknya kaya Gran Max tapi dimodif sehingga muat sekitar 9 orang. Sayang supirnya kurang bersahabat karena saat kami bertanya dia kurang mau berinteraksi (Mungkin saking berkonsentrasi mengemudikan Ontang-Antingnya melewati bukit yang terjal kali yak) … Selang sekitar 10 menitan diangkut dengan Ontang-Anting melewati jalur yang terjal, akhirnya kami sampai di kemah kami. Tepatnya di kemah Sumbing. (#eh?). Kemahnya cukup nyaman dan kokoh. Kasurnya juga empuk serta memiliki dua buah kamar mandi. Karena kami bersembilan, kami memesan satu ekstra bed. Viewnya sendiri soothing banget, nyaman di mata karena hijau alam semua di sekeliling kita. Kita juga dapat disediakan air putih, kopi serta teh (self service) yang berada di luar tenda. Apa aja sih aktifitas yang dapat kamu lakukan disini? Lumayan banyak, loh.

  • BBQ IDR 95.000/person (sirloin, seafood, jagung), Jagung Bakar IDR 15.000/pc
  • Petik strawberry IDR 40.000/Kg
  • Lampion @ IDR 20.000
  • Paintball IDR 100.000/person
  • Tour Kawah Putih IDR 40.000/person (transport & mask included)
  • Trakking IDR 20.000/person (guide & water mineral included)
  • Catch fish IDR 35.000/kg
  • Rafting IDR 185.000/person (at Palayangan river + lunch, 4-5 Km)
  • Outbound

Sekitar pukul lima sore, kami kelaparan dan akhirnya memesan makanan yang ada di buku menu. Harga makanannya sih masuk kantong tapi kok gambar dengan menu berbeda karena gambar-gambar yang ada di menu, gak bisa dipesen. Setelah memesan makanan untuk masing-masing orang, kami harus sedikit kecewa karena makanan yang kami pesan datangnya lamaaaa … (Datangnya sekitar satu setengah jam kemudian – sekitar jam tujuh malam) Beruntung kami memiliki banyak camilan jadi bisa ganjel perut dulu. Kondisi ini kami maklumi sih karena memang penginapan di Legok Kondang Lodge sendiri ini memang sudah full booked jadi mungkin memang lama masaknya.

Kondisi terberat selanjutnya adalah : Mandi. Yeap. Memunculkan niat untuk mandi di tempat ini rasanya susah banget. Hujan serta angin yang cukup kencang membuat acara mandi cukup menyiksa. Iya sih, ada aer anget tapi begitu badan berada di luar aer pancuran, beeugh, siap-siap kedinginan. Gue aja mau sabunan kayanya badan kaku banget gak bisa gerak gara-gara dingin abis. Gigi gue udah gemeratakan, badan gemetaran. Udah kaya mandi pake pecahan es balok di dalam freezer rasanya.

Salah satu kekurangan di tempat ini adalah TV kami nggak nyala dalam artian gak nemu siaran. Kata mas nya sih karena hujan jadi sinyalnya gak bagus. Kekurangan lainnya adalah terkadang tercium bau tidak sedap (aroma WC) dari bawah kemah kami. Awalnya kami kira baunya dari dalam toilet yang masuk ke dalam tenda, tapi begitu kami cek, toiletnya wangi. Wah, berarti ini saluran toiletnya kurang bagus. Entah karena saluran toiletnya tidak dibeton atau salurannya kurang dalam atau apa, kami tidak tahu, yang pasti kadang-kadang tercium aroma kurang sedap pokoknya. Siap-siap bawa masker yaa.

Sungguh benar-benar sayang sekali cuaca tidak mendukung saat kami menginap karena hujan seharian hingga malam jadi kami kebanyakan hanya berada di dalam tenda. Sore hari hujan sempat berhenti sebentar dan kami sempat bermain di luar tenda. Dan tidak disangka karena udara begitu dingin (sekitar 14-15 derajat) muncul uap saat kami berbicara, langsung deh pada kepo maen uap-uapan dari mulut. haha ..

Kami yang sudah excited untuk dapat barbeque-an dimana menu untuk bakar-bakaran sudah disiapkan harus kecewa, karena apa daya, sekitar jam 9 malam hujan kembali mengguyur lokasi sehingga kami tidak bisa barbeque-an. (Tetapi mas-masnya masih bakarin barbeque-nya buat kita, kok. Hanya saja makannya di dalam tenda jadinya. kurang seru yak)

Sembari menunggu barbeque datang, kami menghabiskan waktu dengan bermain UNO. Seru banget maennya. Kebanyakan ketawanya sebenarnya. Ini  juga pertama kalinya gue maen UNO dan kayanya gue gak pinter maen ini. Jatuh mulu, alhasil muka cemong-cemong deh dikasih lipstik. Sekitar jam 10 malam, barbeque kami sudah jadi dan diantarkan ke kamar. Tentu saja makan barbeque tidak enak kalau tidak ditemani Wine, kan? Tenang, wine Academia Lambrusco udah disiapin, kok. Dan ternyata salah satu teman kami, Afoe, tidak kuat minum wine, jadi agak celeng. Wiih, ini ‘daging segar’ untuk dikerjai kalo kata Iblis. Dan kontan, dia diceng-cengin dan dikerjai ama temen-temen. Untung gak kenapa-napa, cuma agak sedikit merah aja mukanya.

Menjelang tidur, kami diberitahu bahwa kami dapat melihat matahari terbit sekitar jam setengah enam pagi. Wuih, excited banget dong. Langsung gue setel alarm jam 5.15 pagi. Eh ternyata acaranya bubar karena hujan masih menggelantung sampai pagi #darn. Tapi berhubung gue udah bangun akhirnya gw take moment jalan-jalan bentar sambil dengerin alam. Suara jangkrik, tokek, ama kicauan burung yang jadi satu bener-bener udah lama banget gue denger. Entah kapan terakhir denger beginian. Yang udah lama gue gak liat juga adalah kunang-kunang. Dimana ya masih bisa lihat kunang-kunang? Di Jakarta masih ada kah?

Sekitar jam setengah sembilan pagi esok harinya, kami pergi ke tempat breakfast yang tidak jauh tempatnya dari lodge kami. Pilihan sarapannya tidak banyak dan saat kami datang, makanannya sudah pada habis. Untung kru penginapannya sigap jadi langsung dimasakin lagi. Nggak banyak menu sarapan yang ditawarkan (yang terlihat di mata gue, cuma ada nasi goreng, telur dadar, ayam goreng, bubur, kerupuk, teh, kopi doang)

Selesai sarapan, kami memutuskan untuk ngiterin Lodgenya karena dari kemaren rasanya kami hanya kebanyakan di dalam kamar. Kami melewati daerah outbound-nya, tempat melihat sunrise, melihat pelengkapan untuk olahraga paint ball serta kemah kecil yang untuk berempat serta lobi penginapannya. Selesai mengitari tempat itu, kami bersiap-siap untuk mandi, beberes barang dan melakukan check out.

Untuk gue pribadi, tempat ini cukup rekomended untuk kalian yang mau hangout bersama teman atau family. Apalagi tempat ini cukup jauh dari kota ya, jadi pemandangan alamnya masih asri dengan harga yang masih bersahabat di kantong. Meskipun ada beberapa kekurangan disana-sini, tapi ya overall masih bolehlah kalian sambangi tempat ini untuk dapetin pengalaman baru. Jangan lupa membawa kaos kaki, jaket, syal, selimut untuk kalian yang nggak kuat dingin.

Oh ya, untuk kalian yang mau datang kesini, info yang kami dapat adalah tempat ini sudah full booked sampai Juni 2016 ya. Jadi, mungkin harus sedikit bersabar kalau mau ke tempat ini. (karena kami pun menunggu dua bulan untuk book tempat ini)

Bandung Kota – Jakarta

Selesainya, kami segera turun gunung menuju Bandung Kota untuk makan siang di Sambara yang mana tempat ini adalah salah satu tempat langganan gue untuk makan gilak di Bandung. Tidak lupa membeli camilan di Prima Rasa di jalan Pasir Kaliki sebelum menuju pulang ke Jakarta. Akhirnya, liburan telah usai. Saatnya mencari rupiah lagi untuk bisa jalan-jalan.

IMG_5445

See you on the next vacation.

Advertisements

One thought on “Glamping Legok Kondang Lodge

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: