My Resignation. Time for a New Adventure!

Menjawab pertanyaan temen temen-temen gue yang mungkin banyak yang nggak tau kalo gue udah resign. Apa? Gue resign? Iye. Tepatnya sejak 26 Desember 2015 kemarin. (Akhirnya gue berhenti dari perusahaan yang udah mengharumkan nama gue selama kurang lebih delapan tahun ini #halah.) Gue yakin juga pasti ada beberapa temen gue yang pastinya sekarang tersenyum-senyum manis saat membaca ini karena akhirnya nazar gue untuk resign terbayarkan juga ya?

Yeap, gue resign dengan ‘diam-diam’ karena nggak banyak temen yang tau. Hanya tim dan atasan gue yang tau soal hal ini.Oke, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa gue resign? Gampangnya, gue analogikan dengan cerita ini :


 

Coba lo taruh seekor katak di dalam sebuah wadah yang berisi air dan mulai panaskan air tersebut. Selagi temperatur air itu beranjak naik, katak tersebut menyesuaikan tubuhnya dengan suhu air panas tersebut. Katak tersebut terus menerus menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air yang terus memanas. Dan tepat ketika air itu hendak menyentuh titik didihnya, sang katak tidak lagi bisa menyesuaikan suhu tubuhnya.
Pada titik ini, sang katak memutuskan untuk melompat keluar. Sang katak mencoba untuk keluar tetapi ia tidak dapat melakukannya karena ia telah kehilangan seluruh tenaganya dikarenakan telah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air yang terus beranjak naik. Dengan segera sang katak tersebut mati. Siapakah yang membunuh katak tersebut? Pikirkan hal ini.
Gue tahu banyak dari kalian yang akan mengatakan penyebabnya adalah air yang terus menerus naik. Tetapi kenyataannya adalah bukan air tersebut yang membunuh si katak, melainkan ketidakmmapuannya untuk memutuskan kapan ia harus melompat keluar.
Benar kita semua harus menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar kita dan situasi tempat kita bernaung, tetapi di satu sisi kita juga membutuhkan keyakinan kapan kita harus menyesuaikan diri dan kapan kita harus beranjak maju. Ada saat dimana kita akan berhadapan dengan situasi tertentu dan memaksa kita untuk mengambil keputusan yang tepat meskipun berat. Apabila kita membiarkan orang lain mengeksploitasi kita secara fisik, emosional, finansial, spiritual atau secara mental, tanpa mereka sadar, mereka akan terus menerus melakukan itu. Marilah kita memutuskan kapan harus melompat. Selagi kita masih memiliki kekuatan untuk melompat.

Garis besarnya, gue nggak mau menjadi si katak yang telat melompat keluar. Saat ini adalah titik dimana gue (dipaksa oleh diri gue sendiri) harus melompat keluar selagi gue bisa, karena gak berasa sudah lebih dari delapan tahun gue mengeluarkan hampir semua tenaga gue untuk menyesuaikan diri dengan ‘suhu air yang terus beranjak naik.’

Di sisi lain, ada banyak hal yang pengen gue coba lakuin, jalanin, datengin, explore, ketimbang terjebak dalam rutinitas gue selama delapan tahun karena terbukti selama delapan tahun. Dan di satu sisi lainnya, gue gak mau di umur lima puluhan, gue masih aja kerja ngelakuin kerjaan yang sama seperti yang gue lakukan saat umur dua puluhan. For me, that’s stupid.

Tepat atau tidak keputusan gue untuk resign, honestly idk.  Karena ini salah satu big decision and a big leap buat gue. Rasa takut, was-was, kuatir selalu mengintip dari balik sanubari sebelah sana. #ciyeahbahasague Pertanyaan-pertanyaan seperti  “Masa iya sih, rejeki gue cuma dateng dari tempat ini ajah?”, “Masa iya sih, skill gue cuma kepake buat begini doang?”,”Masa iya sih, gue gak bisa lebih besar daripada sekarang ini?” entah kenapa selalu muncul di batin gue dan ini salah satu hal yang membuat gue mantap untuk resign.

In the end, gue resign karena pure pilihan gue sendiri dan disini gue mau mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatannya untuk bisa bekerja di salah satu perusahaan terbesar dan terpercaya di Indonesia (yang jadi temen gue pasti tau perusahaan mana yang gue maksud)

Perusahaan yang di satu sisi lain telah yang telah membuka mata gu dengan menghantarkan gue travelling ke beberapa belahan dunia. Jadi, mari kita lihat ke depannya, kira-kira pintu mana yang terbuka untuk gue dan ada berkat apa yang menunggu gue di balik pintu tersebut. Amen.

#regards

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: