Brian Houston : Live, Love, Lead

Brian Houston adalah seorang global founder dan senior pastor dari Hillsong Church dan ini adalah buku pertama karyanya yang saya baca meski saya tahu ia memiliki buku dengan judul-judul lainnya. Berhubung buku ini belumlah dijual resmi di Indonesia, saya beruntung dapat membaca buku ini dari hasil pinjaman dari @dianitakuswara selama beberapa hari. Secara keseluruhan, buku ini terdiri atas 4 Bab dan memiliki masing-masing sub-bab di dalamnya dan blog kali ini adalah ringkasan dalam buku ini, yang untuk saya pribadi menarik perhatian saya.


Introduction : The Best Is Yet to Come

  • Awal mula kehidupan Yesus yang kecil tidak menentukan masa depannya yang besar, begitu juga halnya dengan kita. Yesus datang dari keluarga yang kecil dan dari negeri yang kecil; Ia lahir di kandang yang sederhana dan kotor, ia bahkan diasingkan dari tempat lahirnya dan dikritik sepanjang hidupnya.
  • Tidaklah mudah untuk dapat menemukan jalan kehidupan kita, tetapi  apa pun musim kehidupan Anda, pilihlah selalu jalan yang kecil dan sempit karena meskipun jalan itu kecil dan sempit dan susah, kesemuanya itu membawa hidup dan di dalam perjalanan kita melewati pintu yang sesak dan kecil itu, Tuhan akan menyertai kita. (Matius 7:13-14)
  • Ketika kita mengijinkan rasa takut dan rasa tidak aman masuk ke dalam kehidupan kita, seringkali kita tergoda untuk membuka gerbang tersebut lebih besar dari yang Tuhan ijinkan. Jangan berkecil hati akan hal ini apabila Anda seringkali melakukan hal ini, Dia telah berjanji untuk tidak meninggalkan kita atau mengabaikan kita dalam perjalanan kehidupan kita.
  • Keseluruhan buku ini mengacu kepada ayat Matius 7:13-14 dimana kita akan mengeksplorasi apa maksudnya hidup penuh kasih, mengasihi dan memimpin seperti Yesus. Dalam buku ini pertama-tama kita akan belajar tentang bagaimana caranya menikmati kehidupan dalam bab A Big Life sebelum nantinya  kita melihat cara untuk mengalahkan rintangan yang muncul dalam bab A Difficult Path. Kemudian kita juga akan dijelaskan apa maksudnya melewati pintu yang kecil dan sesak dalam bab A Narrow Gate, sehingga kita dapat memasuki bab terakhir yakni A Glorious Future.
  • Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bagaimana cara menghadapi putaran kehidupan yang tidak terduga karena Tuhan memiliki rencana yang unik untuk masing-masing kita dan ketahuilah bahwa yang terbaik dalam hidup Anda … belumlah tiba.

Part 1 : A Big Life

Chapter 1 : Life in the Faith Lane

  • Ketika mengikuti Yesus, berhati-hatilah terhadap mimpi kita karena Tuhan akan memperbesar mimpi kita apabila mimpi kita bertujuan untuk memperbesar kerajaanNya.
  • Iman tidak dapat diukur dari berapa besar rumah yang kita miliki, uang yang mereka punya, dan berapa besar popularitas yang mereka miliki karena Bapa kita di Surga tidak menciptakan kita untuk kehidupan yang biasa-biasa dan sia-sia. Dia menciptakan kita untuk berjalan di jalur iman.
  • Berjalan di jalur iman tidaklah sama dengan berjalan di jalur cepat. Ketimbang mengemudi dengan cepat, jalur iman bisa disamakan seperti sedang berenang.Dan berenang disini bukanlah sekedar mengambang membiarkan arus kehidupan membawa kita kemanapun ia mau melainkan memegang kendali atas masa depan kita dan disaat yang sama kita berpegang dan berjalan bersama dengan Tuhan dalam setiap langkah yang kita ambil, meskipun artinya langkah yang kita ambil adalah berjalan di atas air, dimana tampaknya keputusan-keputusan yang kita ambil rasanya mustahil.
  • Petrus pernah mengambil beberapa langkah berjalan di atas air meskipun akhirnya tenggelam. Tetapi yang dilakukan saat itu adalah mengambil langkah iman dengan melakukan apa yang Yesus katakan kepadanya untuk ikut berjalan di atas air, dia tidak sedetik pun berpikir apakah nanti ia akan tenggelam, apakah ia benar-benar bisa berjalan di atas air. Petrus hanya mengikuti perintah Yesus dan itulah yang jalur iman. Apa kendala yang kita hadapi saat ini? Apa ketidakmungkinan yang kita hadapi? Ketahuilah, ketika waktunya datang, kita semua akan menjadi seperti Petrus yakni keluar dari perahu dan mengambil langkah iman untuk berjalan di atas air, mempercayai Yesus.
  • Hidup ini adalah perjalanan besar yang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga dan tidak kita ketahui. Apabila kita ingin hidup, mengasihi, dan memimpin seperti Yesus, maka tidak ada jalur lain yang lebih tepat selain jalur iman. Dan untuk menemukan rencanaNya dalam hidup kita, kita perlu mengambil jalan menuju kepada sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya. Ambil resiko untuk berjalan bersamaNya, ikuti suara dan arahanNya.

Chapter 2 : Comfortable in Your Own Skin

  • Mungkin kita memiliki pakaian kesukaan kita atau barang-barang spesial dimana saat kita mengenakannya kita merasa sangat nyaman? Tidakkah engkau pernah berharap hidup bisa sangat senyaman saat kita mengenakan pakaian tersebut? Hal ini bisa kita lihat kepada orang-orang yang sangat menguasai bidang mereka entah orang tersebut aktris, penyanyi, penulis, olahragawan dan lainnya. Dan dibutuhkan lebih dari sepuluh ribu jam akan practice, performance, drills, sebelum seseorang dapat berubah menjadi seorang ikon akan bidang yang ia tekuni.
  • Sementara dalam masing-masing tokoh dalam Alkitab memberikan kepada kita petunjuk untuk bagaimana caranya hidup dalam kasih karunia, Rasul Paulus membicarakan hal ini secara langsung dalam setiap surat yang ia tulis. Perhatikan bagaimana ia memulai suratnya kepada Jemaat di Efesus: “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.” Secara sadar Paulus hendak mengatakan “Dari Paulus – inilah dirinya. Rasul Yesus Kristus – ini yang ia lakukan dan apa yang ia kerjakan. Oleh kehendak Allah – ini adalah otoritas yang ia dapatkan. Kepada orang-orang kudus di Efesus – ini adalah para pendengarnya. Paulus secara jelas dan percaya diri tahu apa siapa dirinya. Ia merasa nyaman dengan panggilannya.
  • Ketika kita mulai menjalani kehidupan kita dengan membanding-bandingkan, kita akan berakhir dengan rasa tidak puas, iri hati, marah, pahit. Kita akan selalu menemukan seseorang yang lebih besar dari kita, tetapi apabila bercermin dari Paulus, ia nyaman dengan apa yang ia kenakan, yakni kasih karunia dari Tuhan.
  • Kita dapat sangat terganggu dengan rasa tidak nyaman atas diri kita sendiri, dan kita mulai mencoba untuk muat dan masuk ke dalam standar yang orang lain inginkan atas kita dan memaksakan diri kita menjadi seseorang yang bukanlah diri kita. Oscar Wilde mengatakan “Be yourself. Everyone else is already taken.”
  • Ketika kita hidup dalam batas kasih karunia yang diberikan kepada kita masing-masing, hidup akan terasa lebih terbuka dan lebih luas. Kita mulai berhenti membandingkan dan mulai bersyukur. Ketika kita mulai hidup secara penuh untuk apa yang Tuhan rancangkan untuk kita, semua yang kita lakukan didasarkan oleh passion, purpose, perspektif dan damai.
  • Tuhan telah memberikan masing-masing kita satu ukuran kasih karuniaNya. Ukuran itulah yang perlu kita penuhi untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Mungkin terdengar aneh tetapi masing-masing dari kita memiliki talenta masing-masing yang secara individual cocok akan tujuan individual kita selama di bumi.

Chapter 3 : Confident in the Call

  • Banyak dari kita yang tidak pernah merasa nyaman dan yakin sepanjang hidupnya akan apa sebenarnya panggilan Tuhan untuk kehidupan mereka. Perkenalkan Gideon dalam kitab Hakim-hakim 6 yang adalah seorang pejuang bersembunyi jauh di gua-gua tempat pembuatan anggur karena takut akan suku Midian dan ketika tiba seorang malaikat Tuhan datang menyapanya dengan berkata, “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani” … Gagah berani? Ha! Apa yang malaikat ini pikirkan, apakah dia salah orang? Gagah berbicara tentang kekuatan superior akan kekuatan. Berani berbicara tentang semangat untuk melawan bahaya besar. Ketika mendengar malaikat itu mengucapkan hal yang Gideon tidak dapat lihat atas dirinya sendiri, keraguan dan beribu alasan muncul atas dirinya sehingga di ayat 13 ia berkata kepada malaikat itu, “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.” … “Oh, jika, kenapa, dimana, tetapi!” familiar dengan kata-kata tersebut? Ketahuilah saat dimana Gideon tinggal saat itu bukanlah keadaan yang idela untuk bangsa Israel tetapi di tempat dimana tidak ada seorang pun dapat menemukan dia, Tuhan tetap dapat menemukan Gideon.
  • Tuhan berkata di ayat 14 kepada Gideon “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!” .. Meskipun Gideon tidak mempercayai dirinya, Tuhan tetap percaya akan talenta yang ia miliki. Kunci untuk dapat menjalani hidup sesuai dengan tujuan Tuhan adalah ketika kita mampu menjawab pertanyaan “Apa yang Tuhan katakan atas dirimu? Siapakah kamu di mataNya, dan apa yang Dia inginkan engkau lakukan atas hidupmu?”
  • Rencana yang Tuhan taruh atas hidup kita jauh lebih besar daripada siapa diri kita, dan rencana Tuhan atas hidup kita bukanlah sesuatu hal yang akan dengan mudah dapat dilepaskan oleh kita meskipun kita mencoba melepaskan diri atau kabur dengan kekuatan kita sendiri (seperti Gideon). Kita tidak akan pernah dapat menjawab apa rencana Tuhan untuk kita apabila kita mencari jawaban itu di luar diri kita, karena apabila kita memfokuskan diri kita mencari jawaban itu kepada orang lain dan apa yang mereka mampu lakukan dan apa yang mereka miliki,  maka kita akan berakhir membanding-bandingkan kehidupan kita sendiri dan akhirnya kita rendah diri. Tuhan tidak menciptakan kita untuk sekedar menjadi replika orang lain, meskipun kita mencoba untuk menjadi orang lain, cepat atau lambat kita akan merasa lelah.
  • Beriman artinya memegang teguh kepada purpose yang diberikan kepada kita dan mempercayai setiap kebaikan Tuhan di tengah-tengah semua kemuliaan, kemenangan, puncak dan juga ditengah-tengah semua pencobaan, godaan, tragedi yang hidup berikan atas kita.
  • Tuhan bukanlah pribadi gila yang menciptakan kita dengan desain A tetapi memiliki tujuan melakukan B. Ia tahu secara persis apa yang mampu kita lakukan ketika ia menciptakan kita. Apa yang menjadi kekuatanmu? Bisakah kamu mengidentifikasi talenta unik yang kamu miliki? Karena hal-hal tersebut ada di dalam kita, terlepas kita menyadarinya atau tidak.
  • Sangat mudah untuk mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang BELUM kita miliki dan kehilangan fokus akan hal-hal yang apa Tuhan inginkan dan DAPAT kita lakukan. 1 Petrus 4:10 berkata “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

Chapter 4 : Loving Unconditionally

  •  “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20) Ayat ini menarik karena berbicara tentang dua orang yang sepakat, permintaan mereka akan dikabulkan, tetapi tiga orang berkumpul? Tentu saja, semakin banyak orang yang berkumpul, akan semakin susah untuk mencapai mufakat. Tetapi kita harus menemukan cara untuk mengasihi orang lain terlepas betapa besarnya ketidaksetujuan kita. Meskipun kita tidak tahu bagaimana cara untuk dapat mengasihi orang yang benar-benar berbeda dengan kita, apabila kita bersandar kepada Tuhan, kita akan menemukan jalannya.
  • Sayangnya, kebanyakan dari kita dengan begitu cepat membangun tembok ketimbang membangun jembatan untuk mengatasi perbedaan padahal hal ini bukan untuk mengkompromikan apa yang kita percayai, melainkan tentang mengasihi setiap orang yang mana Yesus telah mati di kayu salib untuk kita semua. Yesus sendiri adalah master dalam mengatasi perbedaan. Ia lintas generasi, lintas kultur, lintas moral, lintas doktrin, dan lintas politik.
  • Apabila kita ingin memiliki hati seperti Yesus, taruhlah perhatian akan bagaimana responmu terhadap orang-orang yang tidak membuatmu nyaman. Ya, mereka yang benar-benar berbeda dengan kita, termasuk mereka yang tidak menyukai kita, tidak mengerti, tidak menyukai kehadiran kita, orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda, gaya hidup yang berbeda, dan memiliki prioritas yang benar-benar berbeda dengan prioritas kita karena kemampuan kita untuk mengasihi tanpa syarat adalah karakter nomor satu akan hidup seperti Yesus.
  • Kita ingin mengasihi setiap orang, tetapi kalau kita tidak secara konsisten mengalami kasih dari Tuhan setiap hari, maka kita akan berakhir melakukan hal tersebut dengan kemampuan kita sendiri. Seberapa sering kita melebarkan hati kita diluar zona nyaman kita untuk menggapai orang-orang yang tidak setuju dengan kita? Benar bahwa terkadang hubungan dengan orang lain dapat menjadi susah, tetapi kita seringkali menemukan kasih karunia Tuhan di tempat-tempat yang tidak kita pikirkan, di gang sepi, tikungan jalan, rumah sakit, penjara, rumah yatim. Dimana pun kita dapat menemukan orang, kita dapat menemukan Tuhan.
  • Bagaimana kira-kira kalau Tuhan  memanggilmu ke tempat yang tidak kita sukai atau situasi yang tidak kita inginkan? Ingat bahwa Yesus pun melakukan pelayanannya ke tempat-tempat yang tidak kita inginkan untuk menggapai para pendosa agar mereka dapat diselamatkan. Yesus datang bukan untuk menghukum dunia tetapi untuk menyelamatkan dunia.
  • Bukan berarti para pendosa bisa tenang-tenang saja dan tidak merubah cara hidupnya. Karena pesan yang ingin disampaikan oleh Kekristenan adalah pesan akan transformasi, bukan pesan yang statis. Billy Graham mengatakan bahwa “Sudah menjadi tugas dari Roh Kudus untuk menghukum, tugas Tuhan untuk menghakimi, dan tugas kita adalah untuk mengasihi sesama.”
  • Salah satu contoh akan kasih tanpa batas yang melewati semua jenis model kultur dan perbedaan sosial dapat ditemukan di Kisah para Rasul 10, yang menceritakan tentang dua pria yang datang dari latar belakang yang sama sekali berbeda. Yang satu adalah Kornelius, seorang prajurit Romawi yang meskipun saleh, menurut agama Yahudi, Kornelius berada di luar pengajaran pesan Kristus. Dia dianggap kotor, dan seringkali apabila dibutuhkan, ia harus membunuh lawannya, tetapi Alkitab mencatat bahwa ia mencintai Tuhan. Dan yang satunya lagi adalah Petrus, seorang pemuda Yahudi, yang terikat akan hukum Yahudi dan dikenal sebagai salah satu pengikut Yesus. Meskipun berbeda latar belakang, Tuhan memberikan mimpi kepada mereka berdua yang mempertemukan mereka. Petrus menginap di rumah seseorang bernama Simon yang bekerja sebagai penyamak kulit. Di jaman itu, profesi Simon dianggap sebagai profesi yang kotor. singkat cerita, setelah menerima undangan Kornelius, Petrus merasa sedikit takut karena ada banyak prajurit Romawi yang memukuli, menahan dan membunuh orang Yahudi tetapi karena percaya dengan Tuhan, Petrus tetap memenuhi undangan Kornelius. Mereka berdua melewati semua lintas batas yang menjadi tembok hari itu dalam tujuan yang sama, mendengarkan suara dan arahan Tuhan. Dua orang yang berbeda bekerja sama melawan semua protokol demi untuk setia kepada Tuhan. Pada saat ini pun Petrus berkata “Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” [Kisah 10:34-36]
  • Janganlah membangun hidupmu penuh dengan ketidaksetujuan demi untuk membuktikan bahwa dirimu selalu benar setiap saat. Jangan juga membangun dirimu dengan orang-orang yang selalu setuju denganmu. Jangan menendang keluar orang-orang keluar dari hidupmu hanya karena mereka tidak setuju denganmu akan banyak hal.

Chapter 5 : Pioneering

  • Menjadi pionir membutuhkan keberanian, kepintaran, dan keinginan untuk menjelajah yang juga disertai kemauan untuk maju dan siap menahan kejatuhan.
  • Mulailah kecil tetapi bermimpilah besar. Alkitab mengatakan kepada kita “Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi.” Zakharia 4:10 – apa pun yang kita miliki saat ini di tangan kita; keluarga, karir, pelayanan kita – jangan anggap hal itu remeh.

Part 2 : A Difficult Path

Chapter 6 : The Worst Day of My Life

  •  Kita semua ingin hidup dengan dan mengharapkan hal-hal terbaik yang akan datang, tetapi di dalam hati, kita juga sadar bahwa akan ada datang hari dimana hal-hal yang buruk juga akan datang terlepas betapa sukses, sehat, berpengaruh, pintar atau baiknya kita. Hidup itu memiliki banyak musim. Yohanes 16:33 berkata “didalam dunia ini, kita akan mengalami kesusahan.”
  • Dalam Matius 16, Yesus bertanya kepada murid-muridnya tentang siapakah diriNya, dan Petrus menjawab dengan benar. Karena pada saat itu belumlah tiba saatnya untuk mengungkapkan siapa dirinya, Ia menyuruh murid-muridnya untuk tidak mengatakan sepatah kata pun tentang hal itu. Tetapi Ia juga memberitahukan kepada murid-muridnya akan jalan yang begitu susah yang akan dihadapi di kemudian hari, bahwa Ia akan ditangkap, diadili dan dihukum mati. Petrus pun bangkit dan berkata “Tidak, hal tersebut tidaklah boleh terjadi atasMu – engkau adalah Anak Allah! aku tidak ingin hal tersebut terjadi dan aku tidak akan mengijinkan hal tersebut terjadi.” Yesus merespon dengan cara yang dramatis yakni berkata “enyahlah engkau Iblis!” … Kenapa Yesus mengatakan ini? Karena Yesus ingin mengatakan “Begini, Petrus, jalan di depan sudah cukup susah! Jangan goda Aku untuk menggunakan kekuatan IlahiKu untuk  menghindari peristiwa menyakitkan yang harus aku jalani. Engkau mencoba untuk menempatkan ide di kepalaKu tentang bagaimana menghindari kesakitan. Engkau mencoba untuk menempatkanku pada batas dimana aku tidak dapat melihat rencana Bapa dan membuatku terfokus hanya kepada kenyamananKu. Hentikan itu!” Karena Yesus tidak melakukan jalan singkat, maka kita pun harus mencontohNya.
  • Sangat mudah bagi kita untuk berpikir secara duniawi ketika masalah datang dan biasanya kita ingin mengambil jalan apa pun yang terpikirkan pertama kali oleh otak kita untuk dapat lepas dari masalah karena kita tidak ingin susah. Apabila kita mengalami kesusahan, ingatlah nyanyian Mazmur 23:6 “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

Chapter 7 : Understanding the Process of Pain

  • “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” – Pengkotbah 3:1 – segala sesuatu disini juga artinya masa susah, mengecewakan, tidak terduga, menantang dll. Hidup mungkin adalah perjalanan yang susah, tetapi suka atau tidak, ia akan terus bergerak maju. Kalau kita memutuskan berhenti karena rasa sakit atau masa susah, maka kita akan kehilangan apa yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita.
  • Meski kesusahan itu datangnya bukan dari Tuhan, tetapi Ia menggunakan kesusahan kita untuk mencapai rencanaNya, karena Ia mengerti apa itu kesusahan, toh Ia sendiri mengalami rasa takut, kesusahan, kesakitan, dan lainnya saat ia disalib.
  • Ketahuilah bahwa terlepas dari betapa besarnya kesusahan yang kita alami, kalau kita mengijinkan Tuhan masuk ke dalam hidup kita, berjalan bersama kita, maka we will not be destroyed. Amarah, kekecewaan yang kita alami mungkin terasa benar dan jujur, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat, lebih bermakna yaitu kasih dari Tuhan dan karena hidup adalah tentang pilihan, maka kita bisa memilih untuk bekerja sama untuk bangkit melalui semua kesusahan kita. Tidak peduli betapa susahnya hidup yang kita alami, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasihNya kalau kita memilih kasihNya.
  • Dalam proses penyembuhan  dan menjadi kuat, kita harus mengerti proses dari rasa sakit karena kebanyakan beban berat mungkin tidak akan hilang keesokan hari meski kita ingin beban tersebut hilang. Alkitab menjelaskan bahwa rasa sakit dan pergumulan adalah proses yang berjalan, bukan moment yang hanya datang satu kali kemudian hilang.
  • Seringkali kita melihat tidak ada tujuan baik dalam pencobaan yang datang kepada kita, tetapi Tuhan dapat menggunakan semuanya untuk memajukan kita dan membentuk karakter kita.
  • Kita semua pernah mengalami pencobaan. Jadi jangan memperlambat apa yang harusnya dapat kita lakukan sejak awal dalam proses ini dengan harapan kita akan dapat menghindarinya atau setidaknya meminimalisir beban yang datang dalam kehidupan kita. Meskipun terlihat menyeramkan dan menyiksa pada awalnya, apabila kita melakukan hal yang benar dan taat kepadaNya membolehkan kita melewati proses itu lebih cepat.
  • Melewati proses penyembuhan ini bukan berarti kita bermuram diri dalam lubang kesedihan kita, mengasihani diri kita sendiri atau mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk dapat melewati semuanya itu. Kita semua membutuhkan dukungan. Dan kita butuh Tuhan.
  • Ada begitu banyak contoh di Alkitab tentang contoh kesulitan yang datang dan kesakitan yang dialami dalam proses kehidupan, tetapi tidak contoh yang lebih konkrit selain kitab Mazmur. Anda tentu tahu bahwa kitab Mazmur adalah kitab pujian yang penuh dengan lirik dan nyanyian yang ditulis oleh Daud. Banyak kata-kata indah yang merefleksikan kebahagiaan dan pengalaman luar biasa yang dialami Daud dalam hubungannya bersama Tuhan. Tetapi banyak juga nyanyian dalam kitab ini yang mencerminkan kemarahan, kesakitan, duka dan rasa takut dari Daud. Dalam Mazmur 142, salah satu pernyataan terjujur yang pernah ditulis oleh Daud, ia memulai dengan “Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua: suatu doa. (142-2) Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. – Dari sana, ia mengucapkan daftar apa saja yang membuat dirinya merasa tertekan. Secara nyata ia mengeluarkan apa yang kita rasakan sebagai manusia saat kita tertekan, “tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku;”    “dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.”   “tidak ada seorangpun yang mencari aku.”   “Kenapa tidak ada yang menolong aku?” … Tetapi kemudian Daud mengakhiri pasal ini dengan mengingatkan dirinya sendiri apa yang ia tahu adalah kebenaran: “Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!” … bahkan kalimat ini diulang dalam kitab Mazmur lainnya yakni di Mazmur 18, 46, 62 dan 91. Tuhan akan menjadi pendukungmu yang utama dalam hari-hari terburuk kita.
  • Dalam Mazmur 142, Daud memilih untuk mengelilingi dirinya dengan apa yang benar, dan meskipun ia memulai Mazmur tersebut dengan tangisan, ia menutupnya dengan pujian.
  • Alkitab mengatakan bahwa jangan sampai penderitaan di dunia ini menghancurkan jiwa kita (Amsal 18:14 “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?) Putuskan untuk tetap berjalan bersama Tuhan. apa yang kita fokuskan dalam hidup menentukan kita akan mengalami damai di dalam hati kita atau tidak. Rasa kuatir dan gelisah bekerja di dalam zona yang berbeda dengan damai. Kekuatiran adalah zona yang berbahaya untuk hati kita. Amsal 12:25 NLT  berkata “Kekuatiran dalam hati membungkukkan (hati) orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.”
  • Kuatir adalah dirimu mengandalkan kekuatanmu sendiri dan tidak berlabuh dalam iman akan kekuatan Tuhan dan damai yang datang dariNya. Flipi 4:6-7 dengan jelas berkata “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Chapter 8 : Shame, No More

  • Salah satu hal yang menjauhkan kita dari menikmati berkat tuhan adalah rasa malu. banyak orang tidak mengerti kekuatan dari rasa malu ini dan apa yang dapat dilakukan oleh perasaan ini. Rasa malu sebenarnya mengisolasi kita, membenani kita dengan cara yang sebegitu rupa untuk mensabotase masa depan kita.
  • Setiap orang memiliki masa lalu. Setiap orang memilik hal-hal yang ingin mereka hapus, tinggalkan, lupakan, hal-hal yang menghantui mereka saat mereka tidur. Seringkali kita mengijinkan masa lalu kita untuk menentukan cara kita berpikir.
  • Amsal 92:12-13 berkata “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” permasalahannya adalah ketika kita hidup di bawah tekanan malu, rasa bersalah, penghukuman, maka kita tidak akan dapat bertunas. Kita tidak memimpin, sebaliknya, kita dipimpin oleh perasaan tersebut.
  • Amsal15:24 “Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah.”, ini yang terjadi : dosa memimpin kita kepada kesalahan, kesalahan memimpin kita kepada rasa malu, dan rasa malu memimpin kita kepada penghukuman, dan penghukuman membawa kita kepada maut. Beberapa orang terselamatkan tetapi mereka tidak merasa bebas. Mereka tidak percaya bahwa mereka berhak untuk merasa bahagia. Mereka merasa terpinggirkan. Mereka tidak cocok untuk kebahagiaan.
  • Dosa adalah sesuatu yang kita lakukan, sedangkan rasa malu adalah emosi yang kita rasakan yang kita bawa di dalam diri kita dan beban itu berat. Kalau kita ingin melepaskan rasa malu, kita harus memahami  secara penuh apa yang Yesus telah lakukan untuk kita. Rasa malu sebenarnya bertujuan untuk meremehkan kita. Kalau kita mengijinkan rasa malu menguasai hidup kita, merampok damai sejahtera kita dan memimpin serta mengikat kita dalam kehidupan sehari-hari, maka sayangnya kita telah hidup jauh dari apa yang Tuhan inginkan untuk kita. Tetapi Yohanes 3:16 berkata “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
  • Kita harus belajar bagaimana menjalani hidup juta sebagai orang yang terbebas. Dan itu artinya terbebas dari dosa, rasa malu, perasan bersalah dll. Ingat bahwa dosa adalah sesuatu yang kita lakukan, perasaan bersalah adalah sesuatu yang kita rasakan, dan rasa malu adalah sesuatu yang kita bawa. Dan rasa malu ingin memastikan bahwa kita tidaklah cocok untuk apa-apa. Roma 8:1 berkata “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Perhatikan ayat ini benar-benar, tidak dikatakan bahwa kita tidak akan mengalami godaan, dan tidak dikatakan bahwa tidak akan datang masa-masa kelam dalam hidup kita. Tuhan ingin mematahkan kekuatan rasa malu dalam hidupmu. Pertanyaannya hanya satu, apakah kamu mau mempercayai hal ini?

Chapter 9 : Lean On Me

  • Ada tiga cara untuk belajar dari kesalahan : cara mudah, cara susah dan cara yang tragis. Cara mudah adalah belajar dari kesalahan orang lain. Cara yang susah adalah belajar dari kesalahan kita sendiri. Cara yang tragis adalah tidak belajar dari keduanya. Jangan biarkan kesalahan kita tidak mengajarkan apa pun kepada kita.
  • Salah satu godaan terbesar ketika perjalanan dalam hidup menjadi susah adalah mengucilkan diri kita sendiri. Sudah menjadi natural insting kita untuk menjauh sejenak dari emosi kita saat kita mengalami krisis. Tetapi sudah menjadi sifat dasar dari Tuhan, bahwa Ia memilih untuk bekerja sama dengan kita untuk melihat rencana dan tujuanNya di dunia terwujud.
  • Ibrani 10:24-25 “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” – ketika kita bergumul dalam perjalanan kita, cara terbaik yang dapat kita lakukan adalah berada di tempat yang positif dan penuh dengan iman, yakni gereja. Tetapi ingat, tidak ada gereja yang sempurna di dunia ini, jadi jangan lupa untuk membangun hubungan dengan Tuhan secara personal dan terus menerus, dimana pun Anda bergereja.
  • Amsal 11:14 berkata “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.” – Perhatikan bahwa di ayat ini ditulis banyak penasihat, bukan banyak opini. Jadi jangan sembarangan mempercayai orang. Fokuslah kepada orang-orang yang dapat membangkitkan iman kita saat kita merasa di bawah. Membagikan duka kepada mereka yang hidupnya tidak berbasis kepada Tuhan dapat mengarahkan kita kepada saran-saran yang buruk dan pilihan-pilihan yang salah. Lihatlah orang-orang dalam hidupmu yang mencintaimu, mengasihimu dan juga mengasihi Tuhan dan menginginkan yang terbaik untukmu dengan tidak ada agenda yang terselubung di dalamnya.
  • Semua orang menyukai diberikan rasa simpati oleh orang lain. Dalam perjanjian Lama, raja Ahab mengambil nasihat dari ratusan tukang ramal sebelum pergi bertempur. Empat ratus tukang ramal  memberitahukan kepada raja apa yang ingin dia dengar yakni ia akan memenangi pertempuran. Tetapi ada satu orang yang memilih untuk mendengarkan Tuhan, tidak tunduk kepada kekuatan intimidasi. Dalam 1 Raja-raja 22 kita melihat bahwa sang raja sendiri mencari orang yang simpatik dengannya dan memberikan pernyataan yang membenarkan apa yang ingin ia lakukan: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka.” – cerita ini dengan jelas menceritakan bahwa raja hanya ingin mendengar apa yang ingin ia dengarkan.
  • Ketika kita mengalami jalan yang susah, kita ingin teman, kolega, mentor, atau pastor kita memiliki keberanian untuk mengatakan kepada kita tentang kebenaran – bukan orang yang ingin menyenangkan kita saja.
  • Saat kita mengalami saat susah, kita juga memiliki kesempatan untuk dapat memberkati dan membantu orang-orang yang ada di sekitar kita. Caranya? Kita dapat membawa serta orang-orang yang kita cintai dalam perjalanan kesusahan kita, untuk membagikan apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita dan menunjukkan kepemimpinan selagi kita secara otentik dan jujur berjalan di bawah perjalanan yang berat dalam naungan Tuhan.
  • Kepemimpinan, dalam setiap level, seringkali dibuktikan dalam masa-masa sulit. proses transparansi ini bukan berarti menjadi defensif dan menyalahkan orang lain.  Dan selagi kita menjalani masa-masa sulit, kita juga harus menerima fakta bahwa kita tidak dapat mengubah masa lalu. Kita harus bergerak maju dengan keberanian, tidak terburu-buru dan salah satu cara untuk bergerak maju menurut kemauan Tuhan adalah berfokus kepada kebaikanNya. Kita telah mendengar bahwa “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”  (Fili[i 4:8)

Chapter 10 : The Original Pioneer

  • Yesus mempelopori secara internal dan bekerja lebih besar keluar. Injil menggambarkan bahwa Dia adalah pelopor keselamatan kita dan juga pelopor iman kita. Dan Ia juga pelopor hati kita, karena keselamatan adalah sesuatu yang Kristus lakukan di dalam hati kita yang mengubah takdir kekal kita.
  • Ketika Walt Disney meninggal, istrinya Lily membuka Walt Disney World di Florida. salah satu temannya datang dan berkata, “Sayang sekali Walt tidak dapat hadir disini untuk melihat ini semua.” tetapi Lily berkata, “Walt jelas melihat ini – itulah kenapa theme park ini bisa ada hari ini.” – apa yang kita lihat ketika kita memejamkan mata? apa visi atau mimpi yang Tuhan tanamkan dalam hati kita untuk kita bertumbuh, berkembang dan menabur? Apa visi yang menahan kita ketika kita sakit dan takut, tetapi kita tetap melangkahkan kaki kita bergerak maju?
  • Adalah hati kita yang merencanakan jalan kita dan menentukan kemampuan kita untuk mengalami pengalaman akan betapa besarnya hidup yang diberikan kepada kita. Dalam injilnya, kita melihat dalam 3 Yohanes 1:1, yohanes mengatakan salam kepada teman-temannya dengan berkata “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” – kemampuan untuk makmur bukan hanya tentang berkat material. Kompas internal yang kita gunakan untuk tetap searah bersama Tuhan adalah hati kita.
  • Apabila kita dapat memimpikan sebuah mimpi yang besar, mimpi yang orang lain tidak akan tertawakn atau ejek, kira-kira, apa mimpi itu? – kebanyakan orang tidak berani bermimpi besar.
  • Dalam Lukas 2, diceritakan bahwa sudah lewat 12 tahun sejak Maria, Bunda Yesus dikunjungi oleh malaikat dan kita tahu cerita ini bahwa di umur dua belas, Yesus ditemukan di bait Allah, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” – reaksi Maria atas misteri anaknya sama persis dengan reaksi yang diberikan saat ia dikunjungi malaikat, ia menyimpan itu semua dalam hatinya. Sebagai manusia, Maria tentu saja bergumul untuk mengerti rencana ilahi yang menuntut perannya; tetapi demikian, kasih dan ketaatannya kepada Tuhan dan visinya akan hidupnya berarti ia melanjutkan pekerjaan yang telah diberikan kepadanya dan ia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya. Apa yang disimpan oleh hati kita? Seringkali saat perjalanan hidup kita terhenti atau terhalang, rahasia yang disimpan Tuhan dalam hati kita dapat membantu kita terus berjalan.
  • Ini adalah cerita lain tentang rahasia yang ditaruh Tuhan dalam hati kita. Cerita tentang Hana yang meskipun ia mandul, ia tetap berkeinginan untuk memiliki seorang anak laki-laki. Bergumul dengan kemarahan dan juga luka dihatinya, ia menolak untuk menyerah dan melepaskan harapannya. “Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.” (1 Samuel 1:10-13) – terkadang ketika kita tidak dapat memberikan kata yang tepat tentang semua yang Tuhan taruh dalam hai kita, kita berusaha memberikan suara atau kata-kata yang tepat, tetapi apa pun yang Tuhan taruh dalam hati kita adalah berharga dan indah, kita harus menjaga rahasia hati itu dengan sepenuh hati kita.
  • Terkadang kita tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan arus kehidupan menempa kita dan membawa kita pergi sesukanya. Tetapi kita harus menjadi nahkoda kehidupan yang handal, kita harus menilai kerugiannya, memulihkan dan mengatur ulang fokus kita akan arah yang akan kita tuju. Selagi kita bergerak maju dan mengambil langkah berikutnya dalam kehidupan yang sulit, seringkali kita harus berhenti dan mengubah arah kita.Ketika kita berhadapan dengan tantangan hidup, keterbatasan terbesar yang kita hadapi biasanya datang dari permasalahan hati kita. Apabila kita tidak menjaganya, maka kita dapat kehilangan visi kita.
  • Kesusahan akan datang dalam perjalanan hidup kita, tetapi kalau kita datang kembali ke rahasia hati yang Tuhan telah taruh dalam hidup kita, kalau kita membiarkan visiNya menyala dalam hati kita, maka kita akan mengerti kenapa Paulus menulis ini, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:11-13)

Part 3 : A Narrow Gate

Chapter 11 : No Other Name

  • Nama besar Hillsong mungkin dapat menarik banyak orang untuk datang, tetapi bukan berarti nama Hillsong dapat menyelamatkan jiwa orang-orang. Satu-satunya pengaruh  yang dapat menyelamatkan adalah satu nama yang mulia, yaitu Yesus.
  • “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,” Ibrani 6:13-19  … Bapa di surga tahu bahwa karena masuknya dosa dalam hidup kita, ada jurang yang memisahkan antara kita dengan Bapa, dan oleh karena itu ia mengirimkan anaknya, Yesus untuk menjembatani kita dengan kerajaan Surga. Dan kenapa Tuhan membuat sumpah dengan menggunakan namaNya? Karena tidak ada nama lain yang lebih tinggi dari namaNya di alam semesta. Namanya memberikan kita akses kepada dunia Surgawi.
  • Dalam Efesus, kita akan menemukan bahwa namanya “Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.” Efesus 1:21  dan di dalam filipi 2:9-11, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
  • Alkitab pun mencatat dengan jelas bahwa setan dan Iblis pun mengenali kekuatan dari nama Yesus. Dalam kultur orang Yahudi, nama Yesus bermakna “Yehovah adalah penyelamat,” yang sering kita kenal dengan “Penyelamat / Saviour.” Nama Yesus sendiri pun diberikan dan dipilihkan oleh Bapa sendiri saat ia mengutus malaikat datang kepada Maria untuk menjadi ibunda Yesus. “Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,”  Lukas 1:30-33
  • Nama kita memiliki keterbatasan. Kalau kita hidup hanya berdasarkan kepada otoritas dan pengaruh yang kita miliki, maka kita akan selalu berhadapan dengan keterbatasan kita. Namanya adalah jalan yang kecil dan sempit namun membawa kita kepada keselamatan.

Chapter 12 : Calling on the Name of Jesus

  • Terkadang, sebagai orang tua, satu-satunya hal yang dapat membantu kita dalam membesarkan anak (terlepas berapa pun umur mereka) adalah dengan berteriak dan meminta tolong dalam nama Yesus.
  • Ada begitu banyak cerita dan contoh dalam alkitab yang menceritakan kekuatan nama Yesus, dan salah satu contoh paling menarik adalah di dalam kitab para rasul 3:1-10, “Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.
    Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.” … Perhatikan bahwa Petrus tidaklah hidup berdasarkan apa yang ia tidak miliki. Ia tahu bahwa namanya, atau nama teman-temannya atau siapa pun di kota itu tidak memiliki otoritas untuk dapat menyembuhkan, dan ia tahu bahwa nama Yesus dapat menyembuhkan.
  • Peran kita adalah untuk mengangkat orang lain dengan menggunakan kekuatan kita dan kemampuan kita, agar nama Tuhan dipermuliakan melalui nama Yesus yang dapat menyembuhkan dan membuat agar mereka mengetahui kasih Tuhan.
  • Dan cerita tentang orang yang lumpuh ini tidak berhenti hingga disana. Melompat-lompat dan berteriak dengan sukacita, orang ini pergi dengan Petrus dan Yohanes ke Serambi yang dikenal dengan Serambi Salomo. Dan para penjaga seketika menangkap Petrus dan menanyakan dirinya. “Bagaimana engkau dapat membuat orang ini berjalan lagi? Dengan nama apa? Dengan kuasa siapa? Dengan otoritas siapa?” Petrus menjawab dengan jelas “Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.”
  • Tragisnya, seringkali kita hidup dengan keterbatasan nama kita ketimbang hidup dengan nama Yesus. Meskipun nama kita terkenal sebagai selebriti, figur publik, nama kita tetap tidak dapat menebus keselamatan kita sendiri kecuali kita memiliki hubungan yang erat dengan nama Yesus.
  • Ibrani 6 berbicara tentang dua hal, janji Tuhan dan sumpahNya. Ia menepati janjiNya melalui kematianNya. Ya benar bahwa jalan Yesus adalah sempit tetapi juga indah.

Chapter 13 : Discovering Narrow is Never Tight

  • Relevan yang sejati diukur dari apa yang kita ucapkan dan apa yang kita kerjakan.
  • “Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu.  Maka sekarang, supaya timbal balik–aku berkata seperti kepada anak-anakku–:Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!” 2 Kor 6:11-13  … ada begitu banyak orang yang sedari dahulu hingga sekarang mencari-cari kesempatan dan keuntungan bahwa Yesus bukanlah utusan Tuhan.

Chapter 14 : A Holy Calling

  • Amsal 29:18 berkata “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Kita tidak boleh menganggap remeh apa yang kita pikirkan tentang diri kita, panggilan kita dan tujuan yang menggerakkan kita dalam hidup. Ketika kita tidak hidup dengan keyakinan akan rencana Tuhan yang telah ia taruh dalam hidup kita, bisa jadi kita menjalani kehidupan yang beresiko. Tidaklah pernah terlambat untuk membuat perubahan dan menjadikan Tuhan menjadi jalan yang utama.
  • Seringkali pilihan kita yang tersulit adalah pilihan yang terkecil, pilihan yang tampaknya tidak memberikan ancaman untuk saat ini. Tetapi godaan seringkali menantang kita dengan tantangan yang sama di dalam pikiran kita. Iblis dapat membawa kita kepada jalan pintas, kompromi akan ikatan dosa kita, berputar arah dari jalan Tuhan dan lainnya. Apabila Iblis dapat membuat kita ragu akan siapa kita dan apa yang dapat kita lakukan, maka dia dapat menjauhkan dari apa yang terbaik yang datangnya dari Tuhan. Iblis dapat membuatmu mempertanyakan panggilanmu, semua ibadahmu, dan memimpinmu kepada perasaan bersalah, dan mempertanyakan identitasmu di dalam Tuhan.
  • Jebakan pemikiran seperti ini dapat membuat kita meremehkan kemana Tuhan memimpin kita. Yesus sendiri saat digoda pemikirannya oleh Iblis mendasarkan jawabannya kepada Firman Tuhan. Kita pun dapat melakukan hal tersebut, Kita harus mengingat apa itu Kebenaran, bukan menduga-duga tentang kebenaran.
  • Panggilan dan  pekerjaan kita berada dalam resiko mudah tergoyahkan, tumbang, dan mudah disesatkan oleh momen-momen yang tidak nyaman di masa mendatang apabila kita tidak tertanam di dalam kebenaran firman Tuhan dan hubungan kita tidak disiram di dalam hubungan yang akuntabel dan pengajaran yang membuat jiwa kita berapi-api dan lapar akan firmanNya.
  • Di dalam firman Tuhan, kita seringkali dibandingkan dengan pohon dalam bagaimana kita menjalani kehidupan kita dan meresponi berkat yang datang dari kemurahan hati Bapa. Seperti di Yeremia 17:8 “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” dan juga Mazmur 92:12-13 “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” ketika kita ingin bertumbuh dalam panggilan kita, tertanam di gereja adalah hal yang tidak dapat dibantah. Benar bahwa gereja dapat terlihat berbeda-beda bagi masing-masing orang, tetapi menanamkan diri kita di komunitas para anggota tubuh Kristus dapat membangun, menantang, dan menyemangati kita dalam menjawab panggilan kita. Seperti pohon, kalau kita ingin berbuah, maka kita harus memiliki akar yang kuat dan jauh ke dalam tanah untuk menerima makanan kita sehari-hari.  Janganlah patah semangat apabila kita belum sepenuhnya tertanam atau berbuah karena semua ini membutuhkan waktu. Sama seperti pohon, hidup yang berkembang adalah hidup yang berbuah; hidup kita akan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan dan kesehatan : mulai dari dedaunan, buah,bunga dan bahkan biji.

Chapter 15 : A Jesus Generation

  • Kita dapat membaca silsilah keluarga dari Abraham hingga Yesus dalam Matius 1. Dan mungkin kita tidak mengerti kenapa penting untuk mengetahui itu, tetapi tahukah bahwa hal tersebut penting karena itu adalah bukti dimana Tuhan menepati janjiNya? Kejadian 1:7-8 “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”
  • Tuhan menggunakan generasi, bekerja melalui generasi dan tidak dapat dipungkiri berkomitmen kepada generasi. Begitu setiaNya dia kepada generasi yang dijanjikanNya sehingga Dia tidak berhenti kepada satu generasi, tetapi kepada generasi penerusNya.
  • Tidak ada orang yang dapat sukses karena benar-benar usahanya sendiri. Siapapun yang mengatakan bahwa ia sukses karena dirinya sendiri telah membiarkan dirinya sendiri dibutakan oleh harga dirinya. Seseorang yang sukses memiliki pelatih, guru, mentor, keluarga, teman, saingan, mentor dan kesempatan yang diciptakan oleh lingkungannya.Tuhan kita yang begitu mahakuasa MEMILIH untuk menggunakan kita, dan percaya kepada kita.
  • Kebenaran tentang pesan yang dibawakan oleh Kristus tidak akan pernah usang atau termakan oleh jaman dan masih relevan hingga detik ini. Dalam 1  Tawarikh 12 kita membaca tentang pasukan Daud yang bersiap untuk berperang. Tuhan telah memberitahukan padanya bahwa sudah tiba waktunya untuk Daud menggantikan Saul. Dan dalam ayat 32 ditulis : “Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik, ….” – Seperti anak-anak dari Isakhar, kita juga perlu mengerti tentang waktu dan saat-saat yang kita miliki dan mengetahui apa yang harus kita lakukan apabila kita ingin secara efektif relevan.
  • Mazmur 45:6 berkata “Para bapa leluhurmu hendaknya diganti oleh anak-anakmu nanti; engkau akan mengangkat mereka menjadi pembesar di seluruh bumi.” – para bapa leluhur disini dapat diartikan adalah mereka yang sudah dikenal, terbukti, dan sudah matang dan anak-anak dapat didefinisikan belum terbukti, belum terpoles, belum mengetahui, belum dapat dipercaya. Benar bahwa kita harus menghormati yang lebih tua daripada kita tetapi kita juga perlu tahu bahwa kita memiliki kewajiban yang harus kita lakukan sebagai anak.
  • Manusia tidak pernah mencari agama yang membosankan; sebaliknya, mereka ingin mengetahui apakah Tuhan dapat membuat dan membawa perubahan dalam hidup mereka, keluarga mereka, hubungan mereka dengan sesama, di tempat mereka bekerja dan ya, Yesus dapat membawa semua itu.
  • Dalam Mazmur 44, para bani dari Korah bercermin kepada hari-hari lampau yang baik, hari-hari dimana Tuhan bersama leluhur mereka, membandingkan dengan apa yang mereka hadapi saat ini ketika mereka merasa Tuhan telah mengabaikan mereka. Dalam ayat ini kita mendengar mereka berseru : “Ya Allah, dengan telinga kami sendiri telah kami dengar, nenek moyang kami telah menceritakan kepada kami perbuatan yang telah Kaulakukan pada zaman mereka, pada zaman purbakala.
    Engkau sendiri, dengan tangan-Mu, telah menghalau bangsa-bangsa, tetapi mereka ini Kaubiarkan bertumbuh; suku-suku bangsa telah Kaucelakakan, tetapi mereka ini Kaubiarkan berkembang.” (Mazmur 44:2) … Apa yang akan generasi mendatang katakan ketika mereka bercermin tentang pendahulu mereka? Akankah mereka bangga dan melanjutkan apa yang Tuhan telah tanam dalam diri dan generasi mereka seperti di Mazmur 145:4 “Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.”

Part 4 : A Glorious Future

Chapter 16 : A Robust Kind of Faith

  • Ibrani 11 dimulai dengan “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Nenek moyang ini termasuk di dalamnya adalah Nuh, Abraham dan Sara, Yakub, Musa, Rahab, Samuel, Daud dan masih banyak lagi. Kesaksian hidup mereka adalah warisan yang mereka tinggalkan, cerita tentang betapa mereka begitu mempercayai Tuhan di tengah-tengah kesulitan hidup dan tantangan. Jelas, bahwa bukan karena kekuatan mereka sendiri, mereka mampu melewati semuanya. Tetapi justru dari kelemahan mereka, Tuhan menguatkan mereka untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti : “menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.” (Ibrani 33-34)
  • Alkitab seringkali membicarakan peperangan iman semacam ini. Ini adalah situasi dimana kita tidak memiliki sumber daya atau kesempatan, tidak ada solusi untuk kita, tidak ada tempat untuk berpaling ketika kita sedang berperang, bahwa kita dipaksa untuk hanya dapat mempercayai Tuhan bahwa sedianya Dia akan menyediakan dan memenuhi kebutuhanmu. Ia perlu melakukan ini karena apabila kita tidak pernah menemui kesulitan dalam hidup kita, maka kita tidak akan pernah bersandar kepada iman atau mempercayai Tuhan.Mudah untuk memperoleh iman ketika semuanya berjalan baik, tetapi iman yang kuat  hanya dapat ditempa ketika iman itu dicobai.
  • Dalam Yosua 1, diceritakan bahwa Yosua akan menjadi pengganti dari Musa. Yosua sendiri adalah komandan militer dari Musa. Dengan posisinya sebagai ajudan dari Musa, ia telah dipersiapkan untuk menggantikan Musa. Tetapi dalam pasal ini, ketika Yosua menerima panggilan ini, seharusnya panggilan ini begitu menyenangkan dan mudah diterima, tetapi bacalah dengan teliti dimana dalam cerita ini kita melihat Tuhan terus menerus mengatakan bahwa Yosua haruslah kuat dan meneguhkan hatinya. Kenapa? Apakah Yosua melewatkan sesuatu? jawabannya adalah ya, ia melewatkan sekitar 31 hal. Apabila kamu belum tahu, Yosua perlu untuk menaklukkan 31 kerajaan untuk dapat masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Setiap masing-masing raja dari kerajaan ini tidak diberitahukan kepadanya. 31 kerajaan ini  adalah gunung yang harus dipindahkan oleh Yosua.
  • Yesus berkata dalam Matius 21:21-22 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” – tentu yang dimaksud bukanlah gunung dalam artian harafiah, tetapi maksudnya adalah masalah yang besar. Mungkin 31 kerajaan yang perlu kita singkirkan memiliki nama “Hutang”, “Kanker”, “Perceraian” dan lainnya…
  • Dalam rangka untuk memperkuat iman kita, maka kita harus sering melatih dan memperkuat iman kita. Sama seperti otot fisik kita, otot rohani kita pun dapat mengendur dan melemah, tidak mampu untuk melawan tantangan dan godaan yang kita hadapi di depan mata. Cara untuk melatih otot iman kita adalah dengan fokus kepadaNya. Berjalan bersama Tuhan menumbuhkan iman kita waktu demi  waktu di dalam setiap tantangan, pertempuran dan rintangan yang kita hadapi. Kita belajar untuk mempercayai Tuhan diluar apa yang bisa kita lihat, rasakan, ketahui atau bahkan bayangkan. Kenapa kita disebut sebagai generasi pemenang apabila tidak ada sesuatu yang kita menangkan? Kita tidak akan disebut penakluk apabila tidak ada hal yang pernah kita taklukkan. Dan kalau hidup tidak memiliki rintangan, maka Iman tidak akan ada gunanya.
  • 2 Korintus 12:9 berkata “sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” dan 1 petrus 1:7 berkata “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”
  • Dengan iman kita dapat menaklukkan kerajaan, mendapatkan janjiNya, memindahkan gunung dan bahkan menutup rapat mulut singa-singa seperti yang ditulis didalam Ibrani 6:22 dimana pasal ini diambil dari cerita tentang Daniel di kandang singa. tetapi bukanlah kebetulan apabila kita menemukan bahwa Iblis pun juga dibandingkan dengan hal yang sama. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Musuh berada diluar, siap untuk menerkam kita, menggoda kita dan menjauhkan kita dari Tuhan.
  • Terlepas dari apa pun pergumulan rohani yang ada di dalam diri, kita membutuhkan otot iman yang kuat. Salah satu melatih otot iman rohani kita adalah dengan membangun dinding iman kita di area dimana kita merasa paling lemah, dimana di area itulah Iblis seringkali menanamkan taringnya dalam diri kita. Kenali area dalam hidup kita dimana Iblis suka untuk mengambil seluruh energi kita dan menyedot habis iman kita. Apa yang biasanya Iblis coba curi dari hidupmu agar kita menjauh dari Tuhan? Apa yang biasanya digunakan Iblis untuk mengalihkan perhatian kita dariNya?
  • Alkitab tidak mengajarkan kita cara untuk lari dari Iblis, tetapi Alkitab mengajarkan kita bagaimana caranya untuk mendekat kepada Tuhan, untuk menangkis serangan musuh agar Iblis lari dari kita. Kita tidak perlu kuatir tentang bagaimana caranya kabur dari Iblis atau bagaimana cara bersembunyi darinya. Kita hanya perlu fokus mendekat kepada Tuhan dan tujuan yang telah Ia persiapkan bagi kita.
  • Iblis tidak lebih daripada pembohong besar dan dia mengelilingi kita seperti singa yang mengaum, membuat banyak suara dan menakuti kita. Tetapi terkadang, karena kita takut, kita sendiri yang pergi dan masuk ke dalam jebakan yang telah ia persiapkan untuk kita. Seringkali kita kehilangan fokus kepada Tuhan karena kita merasa takut.
  • Cara lain untuk menguatkan iman kita adalah dengan menyembah dan memuji Tuhan. Pujian bukanlah hanya sekedar lirik yang indah etapi adalah sikap hati dimana kita berfokus kepada siapa Tuhan, akan kehebatan dan kebesaranNya. Ketika kita memuji, kita membesarkan nama dan karakterNya. Ketika Dia menjadi lebih besar di dalam fokus dan hati kita, maka masalah kita akan menjadi semakin kecil dan rasa takut tidak lagi memiliki ruang di hati kita.

Chapter 17 : My Lord, My God

  • Ada masa di dalam hidup kita dimana Tuhan tidak hanya meminta kita untuk percaya kepadaNya, tetapi juga Dia meminta untuk kita menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita di dalam tanganNya seperti Tomas.
  • “Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:24-29)
  • Didalam kisah diatas, Tomas merasa kecewa karena ia tidak melihat Tuhan. Tomas juga seperti murid lainnya, ia memiliki keinginan untuk bukti, kepastian dan stabilitas dipulihkan dalam hidupnya. Tetapi Tuhan tidak mengecewakan dia. Dan bahkan tidak perlu mencucukkan jarinya, dengan melihatNya saja ia sudah percaya. Imannya dipulihkan. Perlu diperhatikan juga bagaimana Tomas mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah karena sangat mudah untuk sekedar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan tetapi ketika kita mempraktekkan untuk menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita ke dalam tanganNya, ada harga yang juga perlu kita bayar yakni kita tidak dapat lagi hidup seperti sebelumnya dimana kita ragu, bertanya-tanya, takut dan berjalan di tempat.
  • Akan datang waktu dimana kita merasa orang lain lebih diberkati dari kita. Kita seperti anak kecil yang iri saat melihat ayah kita memberi mainan kepada saudara kita atau terlihat lebih menyayangi orang lain ketimbang kita. Ini adalah godaan dari Iblis dan justru di waktu-waktu seperti inilah kita harus tetap setia dan melakukan apa yang Tuhan tetapkan untuk panggilan kita.

Chapter 18 : Hand & Heart

  • Salah satu musisi paling berpengaruh di dunia adalah Bono, vokalis dari band U2. Saat dia berada di atas panggung, dia memenuhi panggilannya dan dia memaksimalkan talenta dan bakatnya sebagai vokalis. tetapi Bono hidup dengan keinginan lebih besar dari sekedar vokalis. Gairah yang ia miliki untuk memberantas kemiskinan dan untuk mereka yang kurang mampu, untuk mereka yang tinggal di negara-negara miskin telah membedakan dia dari vokalis lainnya di dunia. Musik yang dia mainkan memang benar bukanlah musik rohani, melainkan sekuler, tetapi dia sendiri adalah seseorang yang penuh dengan iman melakukan apa yang Tuhan berikan kepadanya. Dirinya telah melakukan apa yang ada ditangannya dengan baik – seorang musisi handal – dalam rangka memenuhi panggilan hatinya, takdir dan tujuan hidupnya. Di bagian-bagian awal, kita membahas tentang 2 Timotius 1:9 “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”. Ini semua adalah tentang panggilan kita.
  • Talenta, waktu, energi, kesehatan, finansial, sumber daya, keluarga, pernikahan, prioritas, fokus kita adalah tentang tujuan dan panggilan kita. Kita telah dibentuk dengan sedemikian rupa oleh Tuhan untuk kepentingan surgawi. Apa yang menjadi tujuan kita?
  • Seringkali, kita mencampuradukkan panggilan dan talenta kita dengan hadiah yang kita harapkan akan kita dapatkan. Kita menjadi terfokus akan apa yang akan kita dapatkan, padahal jelas dalam Lukas 16:10 dikatakan “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Apabila kita hanya terfokus melakukan perkara-perkara besar saja, maka kita akan menjadi frustasi akan hidup kita. Tuhan bukannya tidak ingin kita menjadi besar, tetapi Dia menginginkan agar kita menginvestasikan talenta kita perlahan-lahan.

Chapter 19 : Dont Stop

  • Hanya karena sesuatu sudah selesai bukan berarti kita harus berhenti melangkah. Tuhan memiliki rencana untuk setiap langkah kita. Mengikuti Kristus berarti kita terus berjalan meski kita tidak tahu kapan dan bagaimana.
  • Iblis tidak dapat merebut keselamatan kita, tetapi dapat dapat mencoba untuk merusak tujuan dan kepuasan rencana Tuhan. Iblis ingin menjadi akhir dari perjalanan rohani kita, menjauhkan kita dari rencana Tuhan. Ketika kita memulai perjalanan kekristenan kita pertama kali, semuanya dapat terlihat begitu indah dan bersemangat. Kita begitu percaya diri hingga tiba saatnya kita jatuh, terguling-guling, terluka. Semuanya tampak bekerjasama mencuri impian kita, harapan kita bahkan iman kita. Di saat seperti inilah kita harus tetap kuat, bertahan, menaruh iman percaya kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: